dari segala hal yang tak pernah membuat kita bertemu, pun tidak akan bisa lagi, disediakan tempat-tempat untuk mengingat hal yang paling mengesankan sekaligus tulus darimu untuk yang ada di hatimu. aku mengingat (mungkin teman-temanku yang ada di sana juga) dari jarak jauh di belakang.
kamu di samping mimbar, dan suara itu.
di waktu-waktu yang tak bisa terelakkan ini, aku cuma mau aku senyum.
Nau, dengerin, ya. aku tahu setelah hal-hal yang menyesakkan ini kamu bisa bernapas lega sampai langit. akan ada bahagia-bahagia yang menunggu kamu besok, atau kapanpun. seperti makan mie kari ayam nanti pagi.
kamu boleh nangis kapan aja, walaupun mamah kamu nggak suka, tapi aku sebagai dirimu, mempersilahkan dengan tulus. walaupun kamu dalam kondisi begini, tenang aja, meski aku juga cemas. kalau kamu lagi sendirian, cerita aja ke aku, iya, kayak gini, supaya kamu seengaknya nggak terlalu sesak.
sumpah, aku tahu kamu bisa bahagia lebih lama dari biasanya setelah ini, ya, Nau.
-
28 Juni
kalau kamu menyangka yang seperti itu menyenangkan, aku yang merasakan bilang tidak. tidak semua terlihat sebagaimana yang diperlihatkan. kalau kamu sedang menyangka, kamu sering salah.
aku tidak suka tulang-tulangku mengilu saat aku terlalu dalam berpikir tentang semua ketakutan dan kerendahanku pada sementara, yang terasa selalu seumur kasur yang kata ibuku ada sebelum aku lahir.
dia bilang, baik-baik saja. aku tahu, dia tidak percaya denganku, dengan siapapun.
“terkapar menunggu dibawa ke atas awan”— 5 April 2016
dan sekarang, persetan. lebih dari menunggu, aku sudah muak bersabar untuk berada di bumi.
semoga,
mata kita
selalu berkata pada
setiap sapa.
melelahkan dan sebegitu lucunya. tidak menyenangkan. hanya sampai selucu itu.
telah dikumpulkan debu dari sela-sela vas bunga, bingkai, jam dinding, peti, dan sedikit masa kecil. namun aku kekurangan butir-butir yang melayang dirambatan cahaya pukul tujuh belas agar mereka selalu terbang di langit-langit kamarku dan hidup kembali,
para peri.